LUWU, SETARAKATA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu menetapkan tiga persoalan kesehatan paling mendesak yang menjadi fokus utama penanganan pada tahun 2026.
Ketiga prioritas tersebut meliputi masalah gizi dan stunting pada balita, kesehatan ibu dan anak, serta penyakit menular prioritas, khususnya tuberkulosis (TBC).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, dr. Rosnawary, mengatakan persoalan gizi buruk dan stunting masih menjadi perhatian utama karena prevalensinya relatif tinggi dan berdampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Status gizi buruk dan stunting masih menjadi isu utama karena prevalensinya cukup tinggi dan berdampak langsung pada perkembangan fisik serta kognitif anak. Intervensi penanganan gizi, pemberian makanan tambahan, serta edukasi gizi menjadi bagian penting dalam program Dinas Kesehatan,” ujar dr. Rosnawary, Senin (12/1/2026).
Fokus kedua Dinas Kesehatan Luwu adalah kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta peningkatan kualitas layanan kesehatan dasar.
“Kesehatan ibu hamil dan bayi/anak merupakan fokus strategis, meliputi peningkatan kunjungan antenatal (K4), imunisasi lengkap, penanganan neonatus dengan komplikasi, hingga upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi. Seluruhnya menjadi perhatian dalam dokumen perencanaan kesehatan daerah,” jelasnya.
Sementara itu, penyakit menular dan penyakit prioritas menjadi fokus ketiga. Menurut Rosnawary, meskipun telah menjadi program nasional, eliminasi TBC masih memerlukan percepatan melalui deteksi dini dan pengobatan yang komprehensif.
“Selain TBC, pencegahan penyakit menular lainnya seperti demam berdarah, diare, serta penguatan program imunisasi juga menjadi bagian dari agenda pencegahan penyakit secara menyeluruh,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Rosnawary mengungkapkan program kesehatan tahun 2026 memiliki perbedaan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satunya adalah penekanan pada program quick-win serta deteksi dini kesehatan masyarakat.
“Tahun 2026, kebijakan kesehatan nasional dan implementasinya di daerah mulai menitikberatkan pada program quick-win, seperti peningkatan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis (screening/catch up), deteksi dini penyakit menular seperti TBC, serta penguatan layanan promotif dan preventif di seluruh kelompok umur,” ujarnya.
Ia mencontohkan, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran pemeriksaan kesehatan yang lebih luas pada 2026 guna mendukung deteksi dini penyakit, peningkatan fasilitas rumah sakit, dan penguatan layanan di puskesmas, tidak hanya berfokus pada layanan rutin.
Perbedaan lainnya terletak penguatan infrastruktur kesehatan di tingkat lokal. Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu memproyeksikan pembangunan dan peningkatan fasilitas kesehatan, termasuk wacana pembangunan rumah sakit regional di Kecamatan Bua.
“Pembangunan ini menandai pergeseran dari sekadar pemeliharaan fasilitas menjadi pengembangan layanan kesehatan rujukan berskala besar. Fokus pembangunan sarana dan prasarana menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan menjadi prioritas utama pada 2026,” jelas Rosnawary.
Selain itu, mulai 2026 perencanaan program kesehatan akan menggunakan data demografis yang lebih rinci serta standar baru dari Kementerian Kesehatan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 2025.
“Dengan data target penduduk yang lebih akurat, program imunisasi, gizi, dan screening penyakit dapat disesuaikan dengan kelompok usia dan tingkat risiko tertentu, sehingga lebih tepat sasaran dibandingkan perencanaan sebelumnya,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu juga memperluas pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Kegiatan seperti Posyandu, kampanye vaksinasi, dan penyuluhan gizi akan dilaksanakan lebih intensif untuk meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan.
“Pendekatan promotif dan preventif akan diperkuat di tingkat komunitas agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungannya,” tutup dr. Rosnawary.
Untuk memastikan seluruh program berjalan optimal, Dinkes Luwu menekankan perencanaan berbasis data masalah lokal, fokus pada indikator hasil, penguatan peran puskesmas dengan sasaran spesifik, monitoring dan evaluasi berkala, kolaborasi lintas sektor, serta pengawasan dan akuntabilitas kinerja. (*)






