Dr. Iqbal Aidar Idrus Dm, S.IP., M.IP
(Pengamat Kebijakan Publik, Universitas Andi Djemma)
Pergantian kepala daerah menjadi berita hangat di beberapa daerah di Sulawesi Selatan seperti di Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Enrekang berkaitan dengan beban hutang daerah pada pemerintah sebelumnya.
Fenomena peralihan kepemimpinan pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, kerap diwarnai dengan tantangan pengelolaan utang yang diwariskan oleh pemerintahan sebelumnya.
Tulisan ini mengupas strategi komprehensif yang dapat ditempuh oleh pemerintahan baru dalam mengatasi beban utang tersebut tanpa mengorbankan program pembangunan dan pelayanan public yang menjadi tugas pokok utama pemerintah dalam memberikan layanan kepada masyarakat terutama pada pelayanan dasar Pendidikan dan Kesehatan.
Audit Komprehensif dan Transparansi
Langkah pertama yang krusial adalah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh portofolio utang yang diwariskan:
• Melibatkan auditor independen untuk verifikasi jumlah dan legalitas utang
• Mengidentifikasi utang yang berpotensi bermasalah secara hukum
• Memetakan profil jatuh tempo dan beban bunga seluruh utang
• Mengumumkan hasil audit kepada publik sebagai bentuk transparansi
Transparansi tidak hanya meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga memberikan landasan bagi negosiasi dengan kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
Restrukturisasi dan Renegosiasi Utang
Beberapa pendekatan yang dapat ditempuh:
• Penjadwalan Ulang (Rescheduling) Memperpanjang tenor pembayaran untuk mengurangi beban angsuran bulanan/tahunan
• Penstrukturan Ulang (Restructuring) Mengubah struktur utang, termasuk konversi utang jangka pendek menjadi jangka panjang
• Penurunan Bunga (Interest Rate Reduction) Negosiasi untuk menurunkan tingkat suku bunga, terutama pada utang dengan bunga tinggi
• Debt Swap Menukar utang dengan bentuk kewajiban lain, seperti ekuitas atau program tertentu
Langkah ini memerlukan pendekatan diplomatik dan negosiasi berbasis data dengan pihak kreditur.
Efisiensi dan Realokasi Anggaran
Efisiensi anggaran merupakan strategi jangka pendek yang dapat segera diimplementasikan:
• Meninjau dan mengevaluasi seluruh belanja operasional non-esensial
• Menunda proyek yang bukan prioritas utama
• Mengkonsolidasikan program yang tumpang tindih
• Memperbaiki sistem pengadaan untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif
Penghematan yang diperoleh dapat dialokasikan untuk pembayaran utang tanpa mengurangi layanan publik esensial.
Optimalisasi Pendapatan
Peningkatan pendapatan merupakan aspek krusial dalam strategi penyelesaian utang:
• Intensifikasi pemungutan pajak dan retribusi yang sudah ada, dengan meningkatkan cakupan dan kepatuhan wajib pajak
• Perluasan basis pajak dengan mengidentifikasi potensi pajak yang belum tergali
• Pengembangan sumber pendapatan non-pajak seperti pemanfaatan aset daerah
• Revitalisasi BUMD agar lebih profesional dan memberikan kontribusi signifikan
Optimalisasi pendapatan harus dilakukan tanpa menambah beban ekonomi masyarakat secara signifikan.
Pembiayaan Inovatif dan Alternatif
Beberapa model pembiayaan inovatif yang dapat dipertimbangkan:
• Public-Private Partnership (PPP) untuk proyek infrastruktur yang layak secara finansial
• Municipal Bonds (obligasi daerah) dengan struktur yang lebih menarik
• Crowdfunding untuk proyek-proyek yang memiliki dampak sosial langsung
• Impact Investment yang menarik investor dengan misi sosial dan lingkungan
• Green Financing untuk proyek-proyek ramah lingkungan
Diversifikasi sumber pembiayaan dapat mengurangi ketergantungan pada utang konvensional.
Pengelolaan Portofolio Utang yang Proaktif
Pengelolaan utang yang lebih baik untuk mencegah penumpukan di masa depan
• Membentuk unit khusus pengelolaan utang dengan SDM yang kompeten
• Menyusun strategi utang jangka menengah dan panjang
• Mengembangkan sistem peringatan dini untuk risiko fiskal
• Melakukan stress test secara berkala terhadap portofolio utang
Pendekatan proaktif ini memungkinkan pemerintah untuk mengantisipasi dan mengatasi potensi masalah sebelum menjadi krisis.
Adapaun studi kasus keberhasilan dalam penerapan point di atas di alami oleh Kota A (inisial) Transformasi dari Krisis Utang menjadi Surplus Anggaran Kota A berhasil mengatasi utang warisan sebesar Rp2 triliun melalui serangkaian langkah terkoordinasi:
- Audit komprehensif yang mengidentifikasi utang fiktif senilai Rp500 miliar
- Negosiasi dengan kreditur utama menghasilkan penurunan bunga dari 12% menjadi 8%
- Efisiensi belanja operasional menghemat 15% anggaran tahunan
- Digitalisasi sistem pajak meningkatkan pendapatan 22% dalam dua tahun
- Kemitraan dengan swasta untuk proyek infrastruktur utama
Dalam waktu empat tahun, Kota A berhasil mengurangi utang sebesar 60% dan mulai menghasilkan surplus anggaran.
REKOMENDASI KEBIJAKAN
Berdasarkan pembahasan di atas, beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan:
- Regulasi yang Lebih Ketat Penyempurnaan regulasi terkait batas maksimum utang dan persyaratan persetujuan untuk mencegah penumpukan utang di masa depan.
- Standardisasi Proses Transisi Pengembangan mekanisme formal untuk dokumentasi dan transfer kewajiban keuangan selama masa transisi pemerintahan.
- Penguatan Kapasitas Pengelolaan Keuangan Peningkatan kapasitas SDM dalam perencanaan fiskal, manajemen utang, dan analisis risiko keuangan.
- Insentif untuk Disiplin Fiskal Pemberian insentif dari pemerintah pusat bagi daerah yang menunjukkan disiplin fiskal dan manajemen utang yang baik.
- Platform Teknologi Pengelolaan Utang Pengembangan sistem teknologi informasi terintegrasi untuk pengelolaan utang yang lebih efisien dan transparan.
Mengelola utang warisan dari pemerintahan sebelumnya memang merupakan tantangan berat, namun dengan pendekatan yang komprehensif, sistematis, dan inovatif, beban tersebut dapat diatasi secara bertahap. Kunci keberhasilan terletak pada komitmen untuk transparansi, disiplin fiskal, dan komunikasi efektif dengan seluruh pemangku kepentingan.
Pemerintahan baru perlu memandang situasi ini bukan hanya sebagai masalah yang diwariskan, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan reformasi fundamental dalam tata kelola keuangan publik.
Dengan demikian, penyelesaian utang warisan tidak hanya menyehatkan kondisi keuangan saat ini, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk keberlanjutan fiskal di masa depan. (*)